Mengenang Rahmah El Yunusiyah: Sang Fajar Pendidikan Perempuan dari Tanah Minang

Mengenang Rahmah El Yunusiyah: Sang Fajar Pendidikan Perempuan dari Tanah Minang

Mengenang Rahmah El Yunusiyah: Sang Fajar Pendidikan Perempuan dari Tanah Minang--pemprovsumbar

SUMBAR,DISWAY.ID -  Jauh di kaki Gunung Singgalang, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat, sejarah bangsa ini pernah mencatat lahirnya seorang perempuan hebat yang kelak mengguncang fondasi tradisi kolot. Tokoh tersebut bernama Hajjah Rahmah El Yunusiyah. Ia bukan sekadar nama yang menghiasi lembaran buku sejarah, melainkan sang fajar yang menyinari jalan bagi pendidikan kaum perempuan di Indonesia.

Hadir di tengah kungkungan tradisi masyarakat awal abad ke-20 yang masih membelenggu ruang gerak kaum hawa, Rahmah tampil ke depan sebagai seorang pembaru. Ia menunjukkan keberanian, pemikiran visioner, dan langkah progresif yang jauh melampaui zamannya.

Lahir pada tanggal 26 Oktober 1900, Rahmah El Yunusiyah tumbuh besar dalam ekosistem intelektual masyarakat Minangkabau yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai religius. Meskipun publik mengenal tanah kelahirannya sebagai gudang yang melahirkan banyak ulama besar, Rahmah muda menemukan sebuah kenyataan sosiologis yang cukup pahit.

Pada masa itu, akses untuk mendapatkan pendidikan formal murni menjadi "wilayah kekuasaan" kelompok laki-laki. Lingkungan sosial sering kali mengurung perempuan hanya pada ranah domestik urusan rumah tangga, serta mengisolasi mereka dari hiruk-pikuk perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Rahmah tentu tidak tinggal diam melihat ketidakadilan tersebut. Ia memandang ketimpangan akses ini bukan sebagai sebuah takdir yang harus perempuan terima begitu saja, melainkan sebagai tantangan besar yang wajib ia dobrak. Dari kegelisahan intelektual tersebut, lahirlah sebuah keyakinan sederhana namun berdaya ledak revolusioner dalam benaknya: Perempuan memiliki hak penuh untuk memperoleh pendidikan yang sama bermutu dengan laki-laki.

Selama masa penjajahan pemerintah kolonial Belanda, masyarakat memandang pendidikan bagi perempuan Muslim bukan hanya sebagai barang mewah, tetapi juga menganggapnya tabu berdasarkan kacamata tradisi. Namun, Rahmah berdiri tegak menentang pandangan tersebut dengan membawa argumen teologis dan sosiologis yang sangat kuat.

Rahmah sangat meyakini konsep bahwa seorang ibu adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ia berargumen keras, jika seorang ibu tumbuh dalam keadaan buta huruf dan tidak memiliki wawasan pengetahuan yang luas, maka generasi masa depan bangsa ini pasti akan lahir dan meraba-raba dalam kegelapan. Bagi pahlawan dari Padang Panjang ini, mendidik kaum perempuan bukan sekadar bentuk kampanye emansipasi, melainkan sebuah strategi mutlak untuk membangun fondasi kedaulatan sebuah bangsa yang merdeka.

Untuk mewujudkan gagasan besarnya, Rahmah mengambil langkah konkret pada 1 November 1923. Dengan tekad yang sudah bulat dan pantang mundur, ia resmi mendirikan Madrasah Diniyyah Puteri. Institusi ini bukan sekadar sekolah agama biasa pada masa itu. Diniyyah Puteri menjelma menjadi institusi pendidikan modern khusus perempuan pertama di nusantara yang memadukan kurikulum pembelajaran secara holistik dan komprehensif.

Rahmah mengintegrasikan berbagai cabang ilmu dalam satu atap. Ia tidak hanya menyuruh para siswi menghafal ayat suci dan ilmu fikih, tetapi juga mewajibkan mereka mempelajari ilmu kesehatan, manajemen administrasi, dan wawasan sosial kemasyarakatan.

Selanjutnya, Rahmah menanamkan jiwa kemandirian yang kuat. Ia membekali murid-muridnya dengan berbagai keterampilan praktis, seperti tata busana dan kemampuan kepemimpinan organisasi. Ia bertujuan mencetak sosok perempuan yang mandiri secara ekonomi dan tangguh secara mental. Fokus utama kurikulum Rahmah adalah melahirkan perempuan yang saleh secara spiritual, namun tetap cerdas, tajam, dan kritis secara intelektual.

Kiprah dan dedikasi Rahmah ternyata bergema jauh melampaui batas-batas geografis nusantara. Pemikirannya yang melampaui zaman sukses menarik perhatian Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang notabene merupakan salah satu episentrum pendidikan Islam terbesar di dunia.

Kekaguman dunia internasional mencapai titik puncaknya saat Rahmah mencetak rekor sejarah. Ia tercatat sebagai perempuan pertama dari kawasan Asia Tenggara yang berhasil memperoleh gelar kehormatan "Syaikhah", sebuah gelar otoritas keagamaan yang sangat bergengsi dan prestisius dari Al-Azhar. Pengakuan level dunia ini memberikan stempel validasi bahwa sebuah gagasan cemerlang dari kota kecil di Sumatera Barat mampu memberikan inspirasi besar pada panggung global.

Rahmah El Yunusiyah memang telah berpulang menghadap Sang Pencipta pada 26 Februari 1969, namun api perjuangan yang ia nyalakan tetap berkobar terang. Madrasah Diniyyah Puteri hingga hari ini masih berdiri kokoh dan terus konsisten menetaskan generasi perempuan tangguh yang berkiprah di berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Sosok Rahmah menjadi sangat penting untuk terus kita kenang hari ini. Ia mencontohkan keberanian berpikir merdeka dan membuktikan bahwa norma sosial yang membatasi kaum perempuan bukanlah sebuah harga mati. Ia mengambil peran sebagai agen perubahan secara mandiri tanpa harus menunggu uluran tangan pemerintah atau belas kasihan penjajah. Ia merancang visi jangka panjang yang menyadarkan kita semua bahwa investasi terbaik bagi sebuah bangsa adalah memberikan pendidikan terbaik bagi kaum perempuannya.

Sumber: