BRIN Ungkap Kuda Laut Jadi Penanda Penting Kesehatan Ekosistem Laut Indonesia

BRIN Ungkap Kuda Laut Jadi Penanda Penting Kesehatan Ekosistem Laut Indonesia

--

SUMBAR.DISWAY.ID - Kepala Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Decky Indrawan Junaedi, mengatakan kuda laut memiliki peran penting sebagai indikator kesehatan ekosistem laut.

Keberadaan spesies tersebut di kawasan lamun, bakau, maupun terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan yang masih baik dan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

Decky menyampaikan hal tersebut dalam lokakarya bertajuk “Perspektif Masyarakat Pesisir dalam Mendukung Keberlanjutan kuda laut di Perikanan Indonesia” yang berlangsung di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Menurutnya, penurunan populasi kuda laut dapat menjadi tanda terjadinya degradasi lingkungan pesisir yang berpotensi memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat.

“Dengan kita mengonservasi kuda laut – mengonservasi artinya menjaga, kita melindungi, jangan sampai dia punah, itu sebetulnya secara tidak langsung kita menjaga lingkungannya, termasuk menjaga ikan-ikan yang di sana tetap bisa beranak-pinak,” jelasnya.

Keberadaan kuda laut Jadi Penanda Lingkungan Masih Sehat

Decky menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat pesisir dalam menjaga keberlanjutan kuda laut dan ekosistem laut di sekitarnya.

“Bila si kuda laut ini masih ada, Ibu dan Bapak, ini berarti kondisi lingkungan tempat tinggalnya masih membuat dia betah tinggal di sana, karena memang kondisinya masih baik,” kata Decky.

Ia juga menyampaikan isu maritim, termasuk konservasi laut dan sektor perikanan, menjadi salah satu agenda riset utama BRIN. Karena itu, BRIN terus aktif mendukung penelitian terkait pengelolaan sumber daya laut melalui kerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, hingga organisasi nonpemerintah.

Lokakarya tersebut mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan mitra internasional untuk membahas kondisi ekosistem pesisir, konservasi kuda laut, serta keberlanjutan Perikanan Indonesia.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), BRIN, dan Project Seahorse University of British Columbia sebagai ruang dialog antara hasil penelitian ilmiah dan pengalaman masyarakat pesisir terkait pengelolaan kuda laut.

Nelayan Tradisional Dinilai Punya Peran Penting Menjaga Laut

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat KNTI, Sugeng Nugroho, mengatakan laut bukan hanya ruang ekonomi bagi nelayan, tetapi juga bagian dari ruang budaya yang harus dijaga kelestariannya.

“Laut bagi nelayan bukan sekadar ruang ekonomi, bukan sekadar ruang produksi, tapi laut bagi nelayan merupakan ruang kebudayaan yang harus terus-menerus kita jaga kelestariannya,” ungkapnya.

Sugeng menyoroti ancaman terhadap ekosistem laut, mulai dari eksploitasi sumber daya berlebihan hingga penggunaan alat tangkap destruktif yang merusak habitat pesisir seperti terumbu karang dan padang lamun.

Menurutnya, konservasi kuda laut harus dilakukan secara luas dengan melibatkan masyarakat pesisir dan Nelayan Tradisional sebagai penjaga utama ekosistem laut.

“Kegiatan konservasi ini harus dilakukan dalam pengertian luas. Artinya, harus melibatkan para nelayan, karena kita tahu bahwa Nelayan Tradisional bukan hanya seorang nelayan, juga penjaga laut,” tegasnya.

Perdagangan kuda laut Harus Diatur demi Kelestarian

Perwakilan Project Seahorse, Jana McPerson, mengatakan kerja sama internasional tersebut bertujuan mendorong konservasi laut melalui pendekatan berbasis spesies kuda laut.

Selain itu, program tersebut juga berupaya meningkatkan kesadaran terhadap ancaman yang dihadapi ekosistem laut dan masyarakat pesisir.

“Tujuan saya di Project Seahorse adalah mendorong negara dan komunitas di seluruh dunia untuk mendesain dan mengimplementasikan tindakan untuk melindungi spesies kuda laut, dan memastikan eksplorasi mereka, jika ada, bisa bertahan selama jangka panjang,” ujar Jana.

Ia mengapresiasi kehadiran peserta dari berbagai daerah dan berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bertukar gagasan mengenai pengelolaan kuda laut yang lebih berkelanjutan.

“Saya tahu ini tidak selalu mudah. Kita akan menghabiskan waktu untuk mengetahui lebih banyak tentang kuda laut Indonesia dan mencari ide untuk membuatnya lebih berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Risris Sudarisman, menjelaskan kuda laut termasuk spesies yang masuk dalam Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Karena itu, perdagangan internasional kuda laut harus diatur agar populasinya di alam tetap terjaga.

kuda laut ini masuk kategori Appendix II, di mana perdagangan secara internasional harus diatur supaya keberadaan di alamnya tetap berlanjut,” katanya.

 

Risris menambahkan konservasi tidak hanya berbicara soal perlindungan, tetapi juga pengaturan pemanfaatan secara berkelanjutan agar sumber daya laut tetap bisa dinikmati generasi mendatang.

Sumber: