SUMBAR,DISWAY.ID - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi belakangan ini memicu perdebatan di kalangan pemilik kendaraan bermotor. Produk Pertamina seperti Pertalite (RON 90) kini dibanderol seharga Rp10.000 per liter, sementara Pertamax (RON 92) melonjak hingga Rp14.500 per liter. Situasi ekonomi ini mendorong sebagian pengendara mencari strategi untuk menekan pengeluaran, salah satunya dengan mencampur kedua jenis bahan bakar tersebut di dalam tangki kendaraan.
Banyak pengendara berasumsi bahwa mencampur BBM dengan oktan berbeda dapat menciptakan bahan bakar "menengah" dengan harga lebih terjangkau namun memiliki kualitas di atas Pertalite. Namun, benarkah praktik ini aman bagi komponen mesin motor maupun mobil Anda?
Sebelum mencampur bahan bakar, Anda wajib memahami perbedaan mendasar dari kedua produk tersebut. Pertalite memiliki angka oktan 90 dengan tambahan zat aditif standar. Di sisi lain, Pertamax dengan angka oktan 92 menjadi pilihan utama bagi kendaraan dengan rasio kompresi mesin 9,1 hingga 10,1, khususnya pada mesin berteknologi injeksi modern.
Oktan yang lebih tinggi pada Pertamax memungkinkan bahan bakar menerima tekanan lebih besar pada ruang bakar mesin dengan kompresi tinggi. Hasilnya, pembakaran terjadi lebih optimal dibandingkan penggunaan Pertalite. Selain itu, Pertamax mengandung zat aditif bernama EcoSave. Zat ini berfungsi mencegah timbulnya kerak karbon di dalam mesin, sehingga komponen mesin tetap terjaga kebersihannya dan jauh lebih awet.
BACA JUGA:Padang Pariaman Barefoot Running 2026 Siap Digelar, Sensasi Unik Lari Tanpa Alas Kaki di Pantai
BACA JUGA:Camilan Sehat untuk Jantung: Ahli Gizi Ungkap Kudapan Lezat Ini Ternyata Baik bagi Tubuh
Risiko Mencampur BBM bagi Performa Mesin
Secara teknis, tidak ada larangan mutlak untuk mencampur Pertalite dan Pertamax di dalam tangki. Namun, para ahli teknik mesin sangat tidak menyarankan praktik ini karena dapat memberikan dampak negatif bagi performa kendaraan. Alih-alih mendapatkan hasil pembakaran yang lebih efisien, Anda justru menghilangkan manfaat utama dari Pertamax.
Salah satu kerugian terbesar saat mencampur kedua BBM ini adalah hilangnya fungsi zat aditif EcoSave. Ketika Pertamax bercampur dengan Pertalite, konsentrasi zat pembersih kerak tersebut akan tereduksi drastis sehingga tidak mampu lagi bekerja secara maksimal melindungi mesin. Akibatnya, kerak karbon tetap menumpuk meski Anda merasa sudah menggunakan campuran bahan bakar yang "lebih baik".
Selain itu, proses pembakaran di dalam ruang mesin menjadi tidak optimal. Campuran dua bahan bakar dengan angka oktan yang berbeda menciptakan titik didih dan karakteristik penguapan yang tidak seragam. Dalam jangka panjang, mesin kendaraan akan mengalami knocking atau yang populer dikenal sebagai suara "ngelitik". Fenomena ini terjadi karena pembakaran tidak terjadi pada waktu yang tepat akibat ketidakstabilan oktan di ruang bakar.
Kendaraan keluaran terbaru umumnya sudah dilengkapi dengan Engine Control Unit (ECU) dan sensor deteksi bahan bakar yang sangat canggih. Sensor-sensor sensitif ini mampu membaca karakter bahan bakar yang masuk ke ruang bakar. Jika sensor mendeteksi ketidaksesuaian kandungan bahan bakar, lampu indikator Check Engine di panel instrumen sering kali menyala sebagai peringatan bagi pengendara.
Mengabaikan peringatan tersebut tentu akan memperpendek usia komponen mesin. Performa kendaraan yang awalnya diharapkan meningkat justru akan menurun drastis. Tarikan mesin terasa lebih berat dan konsumsi bahan bakar malah menjadi lebih boros karena pembakaran yang tidak efisien. Jika terus dilakukan, kerugian biaya perbaikan mesin di bengkel akan jauh lebih besar dibandingkan penghematan yang Anda dapatkan saat mencampur bahan bakar.
Sebagai pemilik kendaraan yang bijak, Anda harus mengikuti standar bahan bakar yang direkomendasikan oleh pabrikan. Lihat buku manual kendaraan Anda untuk mengetahui spesifikasi minimal oktan yang dibutuhkan. Jika pabrikan merekomendasikan RON 92, gunakanlah Pertamax secara murni tanpa campuran bahan bakar lain.
Jangan pernah mengorbankan kondisi mesin kendaraan demi penghematan sesaat. Praktik mencampur BBM hanya memberikan beban tambahan bagi mesin dalam jangka panjang. Jika Anda ingin berhemat, cara terbaik bukanlah dengan mencampur jenis BBM, melainkan dengan menjaga kebersihan filter udara, melakukan servis rutin secara berkala, serta menerapkan gaya berkendara yang efisien dan stabil. Langkah-langkah tersebut jauh lebih efektif dalam menjaga performa mesin tetap prima sekaligus menghemat penggunaan bahan bakar tanpa harus mengambil risiko kerusakan fatal pada kendaraan Anda.