Ini Penyebab Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Satu Dekade Terakhir Versi Pengamat

Ini Penyebab Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Satu Dekade Terakhir Versi Pengamat

--

Sumbar.Disway.id - Meski perekonomian Sumatera Barat (Sumbar) dalam satu dekade terakhir tumbuh, namun terjadi perlambatan pertumbuhan. Hal itu diungkapkan pengamat dan dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas (Unand), Hefrizal Handra.

"Angka pertumbuhan ekonomi Sumbar tetap tumbuh, namun dalam perspektif historis menunjukkan tren perlambatan yang konsisten lebih dari satu dekade terakhir," kata Hefrizal, Rabu, 25 Februari 2026, dikutip Antara.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, pertumbuhan ekonomi di Ranah Minang pada 2025 sebesar 3,37 persen. Meskipun ekonomi di daerah tumbuh, namun masih menunjukkan perlambatan dalam 10 tahun terakhir.

"Pola ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap dan konsisten. Ini menunjukkan bahwa perlambatan bukan sekadar fluktuasi jangka pendek," ujar Hefrizal.

Ia mengatakan, jika perlambatan hanya bersifat siklus bisnis, maka pemulihan pascapandemi COVID-19 seharusnya mampu mengembalikan pertumbuhan ke kisaran 5–6 persen.

"Pemulihan memang terjadi tetapi tidak membawa kita kembali ke lintasan pertumbuhan sebelumnya. Artinya, persoalan yang dihadapi lebih bersifat struktural," jelas dia.

Dari sisi pengeluaran, komposisi produk domestik regional bruto (PDRB) mengalami perubahan. Pangsa konsumsi rumah tangga menurun dalam satu dekade terakhir, net ekspor meningkat, sementara investasi relatif stabil. Namun, perubahan tersebut belum sepenuhnya mendorong akselerasi, kata dia.

"Masalahnya bukan pada besarnya satu komponen pengeluaran, melainkan pada kualitas struktur produksi yang mendasarinya," ucap dia.

Pada kesempatan itu, ia turut menyoroti struktur lapangan usaha di Sumbar yang relatif stagnan. Sektor primer seperti pertanian masih menjadi kontributor utama, tetapi hilirisasi berjalan lambat.

Industri pengolahan tidak menunjukkan peningkatan peran dalam PDRB bahkan cenderung menurun. Sektor jasa memang berkembang namun sebagian besar mengikuti konsumsi domestik tanpa lonjakan nilai tambah yang signifikan.

Sementara, untuk sektor pariwisata dinilai belum memberikan kontribusi yang kuat. Sebab, data menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara cenderung stagnan dalam satu dekade terakhir.

"Pada 2016 kunjungan wisatawan sempat mencapai puncaknya sebelum kembali ke kisaran 56 ribu kunjungan per tahun setelah pandemi," sebut dia.

Terakhir, pertumbuhan 3,37 persen bukanlah krisis tetapi menjadi peringatan. Oleh karena itu dibutuhkan penguatan sektor industri, hilirisasi pertanian yang serius, serta peningkatan produktivitas sektor jasa dan pariwisata.

Sumber: