Lamang Tapai, Kuliner Khas Minangkabau yang Sarat Tradisi
--
SUMBAR.DISWAY.ID - Perpaduan beras ketan, bambu, dan tapai menjadikan lamang tapai salah satu kuliner tradisional yang lekat dengan kehidupan masyarakat Minangkabau.
Di balik cita rasanya, makanan khas Sumatera Barat ini menyimpan tradisi turun-temurun yang dahulu hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari kunjungan keluarga hingga perayaan keagamaan.
Lamang merupakan makanan berbahan beras puluik atau beras ketan yang dimasak menggunakan talang, yakni bambu yang berfungsi sebagai wadah. Proses pembuatan lamang secara tradisional dikenal dengan istilah malamang dan telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Minangkabau sejak dahulu.
Tradisi malamang tersebar di berbagai wilayah Sumatera Barat, baik di daerah darek atau daratan maupun kawasan pesisir. Solok, Payakumbuh, Agam, Tanah Datar, Padang, Pariaman, dan Pesisir Selatan termasuk daerah yang mengenal tradisi pembuatan lamang.
Selain menjadi makanan untuk konsumsi sehari-hari, lamang juga mempunyai peran dalam hubungan kekeluargaan. Di sejumlah daerah, keluarga perempuan membawa lamang ke rumah keluarga laki-laki saat manjalang atau ketika seorang menantu perempuan berkunjung ke rumah mertuanya.
Lamang Tapai dan Tradisi Malamang di Minangkabau
Popularitas lamang tidak hanya bertahan karena rasanya. Makanan ini juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, bahkan menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah keluarga.
Di Nagari Limokaum, Kabupaten Tanah Datar, misalnya, keterampilan membuat lamang menjadi mata pencaharian keluarga. Kaum wanita menjual lamang di balai atau pakan, yaitu pasar tradisional di kawasan sekitar. Lamang Limokaum dikenal dan diminati konsumen setiap hari di Kota Batusangkar.
Masyarakat Minangkabau mengenal beragam jenis lamang. Meski proses pembuatan dan bahan yang digunakan memiliki kemiripan, setiap varian mempunyai bahan dasar yang berbeda.
Lamang berbahan beras ketan dikenal dengan nama lamang bareh katan atau lamang sipuluik. Selain itu, terdapat lamang baluo, lamang pisang, lamang kuning, lamang ubi jalar, lamang labu, lamang ubi kayu, lamang durian, dan lamang jagung.
Di antara berbagai varian tersebut, lamang berbahan puluik atau ketan menjadi salah satu jenis yang paling menonjol dan banyak dibuat masyarakat. Lamang ini biasanya disajikan bersama tapai sebagai pelengkap, sehingga dikenal dengan sebutan lamang tapai.
Namun, perkembangan zaman turut memengaruhi keberadaan tradisi malamang. Kebiasaan membuat lamang saat bulan puasa, Lebaran Haji, perayaan Maulud, dan berbagai kesempatan lainnya semakin jarang ditemukan. Kondisi tersebut membuat tradisi malamang menghadapi risiko terlupakan oleh masyarakat Minangkabau.
Sejarah tradisi ini juga berkaitan dengan perkembangan Islam di Minangkabau sekitar tiga ratus tahun lalu. Tradisi malamang tidak dapat dilepaskan dari kedatangan ulama Syekh Burhanuddin ke kawasan pesisir Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam, terutama di Ulakan, Pariaman.
Resep Lamang Tapai dan Cara Membuatnya
Lamang tapai dikenal sebagai perpaduan lamang berbahan beras ketan dengan tapai sebagai pelengkap. Untuk membuat lamang secara tradisional, bambu atau talang menjadi bagian penting dalam proses memasaknya.
Namun, bahan dan takaran lengkap, termasuk cara membuat tapai, tidak tercantum dalam naskah sumber. Karena itu, resep berikut hanya memuat bahan utama dan gambaran proses yang sesuai dengan informasi yang tersedia, bukan resep lengkap dengan takaran pasti.
Sumber: