Kabut Asap Kepung Sumbar, BMKG Ungkap 2.300 Titik Panas di Sumsel dan Jambi
Kabut asap kiriman kepung Sumbar akibat perlambatan angin. BMKG imbau warga pakai masker dan kurangi aktivitas luar ruangan.-Dok. Istimewa-
SUMBAR.DISWAY.ID -- Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan dan Jambi. Kondisi angin yang bergerak dari tenggara serta melambatnya kecepatan angin di Sumbar membuat asap bertahan dan terakumulasi di sejumlah daerah.
Ketua Tim Publikasi dan Diseminasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, mengatakan pemantauan citra satelit hingga Jumat (16/10/2026) pagi mendeteksi sekitar 2.300 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi.
“Berdasarkan monitoring citra satelit hingga pagi ini, titik panas terbanyak terjadi di Sumatera Selatan dan Jambi, sekitar 2.300-an titik dengan kepercayaan medium,” ujar Yudha, Sabtu (17/10/2026).
BACA JUGA:Risman Jadi Penyelamat! Semen Padang Tahan PSMS 1-1 Lewat Gol Menit Akhir
Ia menjelaskan, arah angin dari tenggara memungkinkan asap dari wilayah tersebut terbawa menuju Sumatera Barat. Kondisi ini diperburuk oleh kecepatan angin yang melambat sehingga asap tidak cepat menyebar dan terurai di atmosfer.
Akibatnya, kabut asap berpotensi bertahan dan berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah. BMKG pun mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menyusul kondisi kualitas udara yang dilaporkan berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Yudha mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan. Apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang tercemar.
“Dengan kondisi udara dalam kategori sangat tidak sehat, kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, dan tidak memperparah kondisi dengan melakukan pembakaran lahan,” katanya.
BACA JUGA:Gempuran Hoaks Marak di Medsos, Wamenkomdigi Dorong Media Jadi Penjernih Informasi
Selain mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan, BMKG meminta warga tidak melakukan pembakaran lahan maupun kegiatan lain yang berpotensi menambah pencemaran udara. Upaya tersebut penting untuk mencegah kondisi kabut asap semakin memburuk.
Yudha mengatakan, pemerintah telah menindaklanjuti situasi tersebut, di antaranya melalui penerbitan edaran mengenai pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan itu menjadi salah satu langkah yang diambil dalam merespons kondisi kabut asap yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Di sisi lain, potensi hujan berintensitas tinggi dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih rendah. Jika kondisi cuaca dan pola angin belum mendukung penyebaran asap, kabut asap berpotensi bertahan lebih lama di wilayah Sumatera Barat.
BMKG mengimbau masyarakat terus memantau informasi terbaru mengenai kualitas udara dan mengikuti arahan pemerintah setempat. Kewaspadaan diperlukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi lingkungan yang berkembang.
Sumber: