Wajah Bengkak dan Sembap Bisa Berkaitan dengan Kondisi Mental, Ini Pendapat Ahli Saraf

Wajah Bengkak dan Sembap Bisa Berkaitan dengan Kondisi Mental, Ini Pendapat Ahli Saraf

Wajah bengkak dan sembap bisa menjadi tanda stres berlebih. Ahli saraf menjelaskan dampaknya bagi kesehatan tubuh dan mental.--

 
 

SUMBAR.DISWAY.ID – Kondisi wajah ternyata bisa mencerminkan apa yang terjadi di dalam tubuh. Wajah yang tampak bengkak, sembap, dan terasa berat tidak selalu muncul akibat kurang tidur atau konsumsi makanan asin, tetapi juga dapat menjadi tanda stres berlebih.

Laporan Hindustan Times pada Rabu, 13 Mei 2026 menyebutkan bahwa wajah bengkak bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan mental seseorang. Kondisi tersebut muncul ketika tubuh mulai mengalami tekanan emosional yang berlangsung terus-menerus.

Direktur Neurologi di Fortis Noida, Dr Jyoti Bala Sharma, menjelaskan bahwa wajah bengkak terkadang menjadi sinyal manajemen stres yang tidak berjalan dengan baik.

Menurut dia, stres yang mulai memengaruhi tubuh secara serius dapat menimbulkan perubahan fisik yang terlihat jelas, termasuk pembengkakan pada wajah.

Stres Tidak Selalu Buruk bagi Tubuh

Dr Sharma menjelaskan stres dalam jumlah sedang sebenarnya tidak selalu berbahaya. Dalam situasi tertentu, stres justru membantu seseorang tetap fokus dan siap menghadapi tantangan.

Menurut ahli saraf tersebut, stres dapat meningkatkan motivasi, mempertajam konsentrasi, memperbaiki performa, serta membantu tubuh merespons situasi sulit secara efektif.

Namun, masalah mulai muncul ketika stres berlangsung terlalu lama dan sulit dikendalikan.

“Namun, masalahnya dimulai ketika stres menjadi terus-menerus dan luar biasa. Seiring waktu, stres kronis dapat mulai memengaruhi kesejahteraan fisik dan emosional, terkadang bahkan mengubah tampilan wajah melalui bengkak, kelelahan, dan pembengkakan yang terlihat.”

Respons Tubuh saat Mengalami Stres

Dr Sharma menjelaskan bahwa stres bukan hanya persoalan emosional, melainkan juga proses biologis yang melibatkan reaksi tubuh.

Saat seseorang mengalami stres, tubuh melepaskan hormon tertentu yang mempersiapkan respons “melawan atau melarikan diri”.

“Detak jantung dan pernapasan meningkat, otot menegang, dan tubuh menjadi lebih waspada. Meski berguna dalam keadaan darurat, aktivasi respons ini secara berulang atau berkepanjangan dapat menjadi berbahaya,” kata dia.

Ia menegaskan bahwa stres memang bukan penyakit. Namun, pengelolaan stres yang buruk dapat memperparah kondisi medis yang sudah ada dan memicu masalah kesehatan baru.

Kenali Perbedaan Stres Jangka Pendek dan Kronis

Menurut Dr Sharma, stres terbagi menjadi dua jenis, yaitu stres jangka pendek dan stres jangka panjang atau kronis.

Stres jangka pendek biasanya muncul sebelum menghadapi situasi intens, seperti ujian, wawancara kerja, presentasi, atau peristiwa penting dalam hidup.

Kondisi itu membantu seseorang tetap waspada, fokus, dan produktif.

Sebaliknya, stres kronis berlangsung lebih lama, bahkan bisa terjadi selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

“Jenis stres ini sering berkembang karena tekanan kerja yang konstan, tekanan keuangan, masalah hubungan, penyakit, dan trauma emosional,” imbuh dia.

stres kronis Bisa Memicu Penyakit Serius

Dr Sharma mengingatkan bahwa stres kronis dapat memengaruhi kesehatan fisik dan emosional dalam banyak aspek.

Secara fisik, kondisi tersebut dapat memicu sakit kepala, ketegangan otot, tekanan darah tinggi, gangguan tidur, masalah pencernaan, kelelahan, hingga sulit berkonsentrasi.

Dalam jangka panjang, stres berkepanjangan juga meningkatkan risiko penyakit serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan kontrol gula darah.

Selain berdampak pada fisik, stres kronis turut memperburuk kondisi mental seseorang.

“Stres dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, mudah marah, emosi yang tidak stabil, dan rendah diri,” ujar dia.

Cara Mengurangi Stres agar Tubuh Tetap Sehat

Untuk membantu mengurangi stres, Dr Sharma membagikan sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyarankan masyarakat membatasi konsumsi kafein, menghindari alkohol dan merokok, serta menjaga pola tidur yang cukup dan teratur.

Selain itu, teknik relaksasi seperti yoga dan meditasi juga dinilai efektif membantu tubuh menjadi lebih tenang.

Aktivitas fisik ringan, termasuk berjalan kaki secara rutin, dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

Dr Sharma juga mengingatkan pentingnya mengelola waktu dengan baik, membangun pola pikir positif, meluangkan waktu istirahat, serta menjaga hubungan sosial bersama keluarga dan teman.

Jika stres mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menyarankan agar segera mencari bantuan profesional.

 

Sumber: