Menariknya, tidak ada patokan pasti berapa kali mi instan boleh dikonsumsi dalam seminggu atau sebulan.
Alasannya sederhana, cara mengonsumsi jauh lebih penting daripada frekuensinya semata.
Mi instan masih bisa dinikmati dengan lebih bijak jika diposisikan sebagai pengganti nasi atau sumber karbohidrat, lalu dilengkapi dengan nutrisi lain.
Misalnya:
- Tambahkan protein seperti telur, ayam, tahu, atau tempe
- Sertakan sayuran agar asupan serat dan vitaminnya tercukupi
- Kurangi penggunaan bumbu agar tidak terlalu asin
Dengan komposisi tersebut, mi instan tidak lagi berdiri sendiri sebagai “makanan darurat”, tetapi menjadi bagian dari menu yang lebih seimbang.
Kunci Utamanya Ada di Pola Makan
Dalam pola makan sehat, komposisi gizi ideal terdiri dari:
- 50-60% karbohidrat
- 10-15% protein
- Lemak kurang dari 30%
Jika mi instan dikonsumsi terus-menerus tanpa tambahan lauk dan sayuran, risiko dampak buruknya tentu lebih besar.
BACA JUGA:7 Kebiasaan Sederhana yang Diam-Diam Bisa Meningkatkan Kualitas Hidup, Nomor 4 Tak Terduga!
BACA JUGA:Es Teler, Minuman Legendaris Nusantara yang Selalu Jadi Favorit Pelepas Dahaga
Namun, jika hanya dikonsumsi sesekali dan dikombinasikan dengan bahan makanan bergizi, mi instan tidak harus sepenuhnya dihindari.
Mi instan bukan musuh kesehatan, tapi juga bukan makanan yang boleh dikonsumsi sembarangan.
Frekuensi, porsi, dan cara mengolahnya menjadi faktor penentu apakah mi instan berdampak buruk atau masih aman dinikmati.
Sesekali boleh, asal tidak berlebihan dan tetap memperhatikan keseimbangan gizi dalam satu hari.